Spesifikasi:

 

Penulis

: Azmah Harti Pramesti, dkk.

Penerbit

: Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bogor

ISBN

:

Halaman

: viii + 159 hlm

Ukuran

: 14 x 21 cm

Sinopsis

:

Bogor bukan sekadar latar, ia adalah nadi yang mengalir di setiap kisah dalam antologi ini. Sepuluh cerpen karya siswa SMA dan MA se-Kabupaten Bogor ini mengajak pembaca menyusuri lereng Puncak yang tergerus mesin tambang, menapaki jejak sejarah di Prasasti Ciaruteun dan perjuangan santri Singaparna, hingga menyelami mimpi terakhir seorang kakek tua di tahun 2071 yang menanti anaknya pulang.

Melalui ragam genre dari realisme sosial, fiksi sejarah, hingga fiksi spekulatif, para penulis muda ini bicara tentang hal-hal paling manusiawi: kehilangan tanah kelahiran akibat pembangunan yang rakus, harga diri yang dipertaruhkan di tengah kemiskinan, luka perang yang menuntut pengampunan, serta cinta keluarga yang bertahan melintasi waktu dan jarak. Ada Saimin yang menjajakan wangi kosong sebagai pengingat kemanusiaan, ada Bumi yang belajar memahami mengapa ayahnya rela menjaga sebongkah batu, ada Freya dan sepasang sepatu yang mengubah cara pandang seorang anak kaya, ada pula Sari Sunarti yang bertanya di tengah sorak-sorai kemerdekaan: kapan gilirannya untuk bebas.

Ditulis dengan kejujuran dan kepekaan generasi muda dari berbagai penjuru Kabupaten Bogor dari Cibinong, Gunung Putri, dan Cariu hingga daerah lain di Kabupaten Bogor kumpulan cerpen ini membuktikan bahwa suara-suara kecil dari bangku sekolah mampu merangkai cerita besar tentang tanah air, keluarga, dan kemanusiaan.